BlogsOct 5, 2026

Effective Ways to Reduce Nitrite Levels in Shrimp Ponds

Effective Ways to Reduce Nitrite Levels in Shrimp Ponds

Dalam budidaya udang, kualitas air perlu dipantau secara rutin karena perubahan parameter kimia dapat mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan udang. Salah satu masalah yang cukup sering muncul adalah meningkatnya nitrit. 

Untuk itu, mengetahui cara menurunkan nitrit di tambak udang penting dilakukan, terutama ketika kadar nitrit mulai meningkat akibat penumpukan bahan organik, sisa pakan, dan ketidakseimbangam proses nitrifikasi. 

Apa Itu Nitrit dan Mengapa Berbahaya bagi Udang?

Nitrit alias NO2- merupakan salah satu senyawa nitrogen yang terbentuk dalam proses perubahan amonia menjadi nitrat. Dalam kondisi normal, nitrit seharusnya segera diubah menjadi nitrat oleh bakteri nitrifikasi. Namun, ketika proses tersebut tidak berjalan optimal, nitrit dapat menumpuk di air tambak. Kondisi ini bisa terjadi ketika beban bahan organik tinggi, oksigen tidak mencukupi, atau keseimbangan bakteri pengurai terganggu. 

Paparan nitrit dapat berbahaya karena bisa mengganggu kemampuan udang dalam menggunakan oksigen. Paparan nitrit yang tinggi dalam jangka panjang juga dapat menurunkan pertumbuhan dan mempengaruhi respons imun udang vaname. 

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Science Direct, paparan nitrit sebesar 20 mg/L atau lebih selama 30 hari berkaitan dengan pertumbuhan udang yang lebih rendah dan penurunan respons imun pada Litopenaeus vaname. 

Batas Aman Kadar Nitrit di Tambak Udang

Tidak ada satu angka yang bisa diterapkan untuk seluruh tambak karena tingkat toksisitas nitrit dipengaruhi oleh spesies udang, salinitas, pH, lama paparan, serta bentuk pengukuran yang digunakan. Untuk itu, petambak perlu memperhatikan satuan pada hasil pengujian, apakah dinyatakan sebagai NO2- atau sebagai nitrit N (NO2-N). 

Sebagai gambaran, penelitian yang dilakukan pada udang vaname di salinitas rendah sebesar 3 g/L memperkirakan kadar aman nitrit-N sekitar 0,53 mg/L untuk paparan nitrit tunggal. Penelitian tersebut juga menemukan fakta bahwa nitrit lebih toksik dibandingkan nitrat pada kondisi salinitas rendah. 

Sementara itu, penelitian lain menunjukkan bahwa tingkat keamanan nitrit dapat berbeda berdasarkan salinitas. Kadar aman yang diperkirakan untuk udang vaname adalah 6,1 mg/L nitrit-N pada salinitas 15%. Sedangkan pada salinitas 25% dan 35%, masing-masing sekitar 15,2 mg/L dan 25,7 mg/L. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin rendah salinitas, maka semakin besar pula risiko toksisitas nitrit terhadap udang. 

Namun, angka tersebut berasal dari kondisi penelitian tertentu dan tidak bisa langsung dijadikan patokan untuk semua tambak. Sebagai langkah aman, Anda bisa menjaga kadar nitrit lebih rendah, melakukan pengukuran secara rutin, serta segera mencari penyebabnya jika kadar mulai meningkat. Dengan begitu, masalah nitrit dapat ditangani sebelum mengganggu pertumbuhan dan kesehatan udang. 

Bagaimana Cara Mengukur Kadar Nitrit di Tambak Udang?

Pengukuran nitrit dapat dilakukan menggunakan tes kit atau alat pengukur kualitas air yang memang dirancang untuk mendeteksi nitrit. Sampel sebaiknya diambil secara rutin pada titik yang mewakili kondisi tambak, misalnya area dekat dasar, titik yang banyak menerima sisa pakan, serta bagian yang memiliki sirkulasi air lebih rendah. 

Selain nitrit, parameter seperti pH, suhu, salinitas, DO, amonia, alkalinitas, dan bahan organik juga perlu dicatat karena kondisi tersebut saling berkaitan dalam pengelolaan kualitas air. 

Pengukuran sebaiknya dilakukan pada waktu yang konsisten agar perubahan kadar nitrit lebih mudah dibandingkan. Tidak disarankan untuk mengandalkan satu kali pengukuran. Catatan harian atau yang dilakukan secara berkala dapat membantu petambak melihat apakah nitrit benar-benar turun setelah dilakukan tindakan koreksi atau justru kembali meningkat. 

Penyebab Kadar Nitrit Tinggi di Tambak Udang

Kadar nitrit yang meningkat biasanya bukan disebabkan oleh satu faktor saja. Beberapa kondisi dapat saling berkaitan sehingga proses penguraian senyawa nitrogen menjadi tidak seimbang. Beberapa penyebab yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Penumpukan sisa pakan dan feses udang

  • Beban bahan organik yang terlalu tinggi

  • Populasi udang terlalu padat dibandingkan kemampuan sistem tambak

  • Aerasi tidak mencukupi sehingga oksigen terlarut turun

  • Populasi bakteri nitrifikasi belum stabil

  • Pengelolaan dasar tambak kurang optimal

  • Pergantian air tidak dilakukan sesuai kebutuhan

  • Pemberian pakan berlebihan sehingga banyak pakan tidak termakan. Mengenai ini,, Anda dapat membaca Cara Menghitung Indeks Pakan Udang Beserta Rumusnya.

  • Perubahan kualitas air yang terlalu cepat

Umumnya, peningkatan nitrit dan bahan organik dapat terjadi pada fase pertengahan hingga akhir pemeliharaan. Akumulasi bahan organik dari sisa pakan dan metabolisme udang menjadi salah satu hal yang perlu dikendalikan. 

Bagaimana Cara Menurunkan Kadar Nitrit di Tambak Udang?

Ketika kadar nitrit mulai meningkat, penanganan sebaiknya dilakukan dengan melihat penyebabnya terlebih dahulu. Jangan langsung menambahkan banyak bahan atau probiotik tanpa mengetahui kondisi air. Tujuannya bukan hanya menurunkan angka nitrit sesaat, tetapi mengendalikan keseimbangan sistem tambak agar nitrit tidak kembali menumpuk. 

1. Aplikasikan Bakteri Probiotik Multistrain

Probiotik dapat menjadi salah satu bagian dari pengelolaan kualitas air karena mikroorganisme tertentu membantu menguraikan bahan organik dan mengendalikan senyawa nitrogen di dalam tambak. Penggunaan bakteri probiotik juga dapat membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme sehingga proses pengolahan limbah nitrogen berlangsung lebih optimal. 

Salah satu produk yang dapat digunakan dalam pengelolaan kualitas air adalah Natupro Aquatic. Produk ini mengandung Bacillus sp. yang berperan dalam membantu merombak senyawa nitrogen, termasuk NH3 (amonia) dan No2 (nitrit), menjadi NO3 (nitrat) serta N2 (gas nitrogen). 

Proses perubahan nitrit menjadi senyawa nitrogen yang lebih lanjut hingga menghasilkan nitrogen disebut denitrifikasi. Dengan mendukung proses biologis tersebut, penggunaan bakteri dapat membantu mengurangi penumpukan senyawa nitrogen di dalam tambak. 

Meski demikian, penggunaan probiotik sebaiknya tetap disesuaikan dengan kondisi tambak dan mengikuti dosis serta petunjuk aplikasi produk. Probiotik juga tidak sebaiknya menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi nitrit tinggi. 

Pengelolaan pakan, penyiponan, aerasi, kepadatan tebar, dan pemantauan kualitas air tetap diperlukan agar sumber masalah dapat dikendalikan. 

2. Siphon dan Pengelolaan Dasar Kolam

Jika nitrit meningkat karena banyaknya bahan organik, memperbaiki kondisi dasar kolam jadi langkah yang penting. Sisa pakan, feses, dan endapan organik yang menumpuk dapat menjadi sumber beban nitrogen. Penyiponan dilakukan untuk mengurangi material tersebut sebelum terus mengalami proses penguraian di dalam sistem tambak. 

Penyiponan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati agar tidak membuat dasar tambak terlalu terganggu atau menyebabkan perubahan kondisi air secara mendadak. Setelah tindakan dilakukan, pantau kembali nitrit, amonia, DO, pH, dan parameter lain untuk melihat respons tambak. 

3. Aerasi dan Pergantian Air

Aerasi berperan penting dalam menjaga ketersediaan oksigen terlarut. Kondisi oksigen yang baik mendukung proses biologis di dalam tambak, termasuk aktivitas mikroorganisme yang membantu mengolah senyawa nitrogen. Oleh karena itu, ketika nitrit meningkat bersamaan dengan DO yang rendah, pengelolaan aerasi perlu segera diperiksa. 

Pergantian air juga dapat menjadi pilihan untuk membantu mengurangi konsentrasi nitrit, terutama jika air pengganti memiliki kualitas yang baik. Namun, jangan mengganti air secara berlebihan atau terlalu mendadak karena perubahan salinitas, suhu, pH, dan parameter lainnya dapat menimbulkan stres pada udang. 

Mengenai ini, Anda dapat membaca lebih lanjut panduan lengkap Cara Menguras Air Tambak Udang Sebelum Siklus Baru.

4. Manajemen Pakan dan Kepadatan Tebar

Pakan yang tidak habis akan terurai dan menambah beban bahan organik di dalam tambak. Untuk itu, jumlah pakan perlu disesuaikan dengan biomassa dan respons makan udang. Pemberian pakan secara berlebihan justru dapat membuat kualitas air memburuk dan meningkatkan beban senyawa nitrogen. 

Kepada tebar juga perlu diperhitungkan sejak awal. Semakin banyak udang dalam satu petak, semakin besar pula produksi feses dan kebutuhan oksigennya. Sistem dengan kepadatan tinggi membutuhkan pengelolaan air, aerasi, pakan, dan bahan organik yang lebih ketat. 

Apa Peran Salinitas Terhadap Toksisitas Nitrit pada Udang?

Salinitas tidak hanya menjadi parameter yang perlu dicatat dalam kualitas air, tetapi juga berhubungan dengan tingkat toksisitas nitrit. Pada salinitas yang lebih rendah, udang vaname cenderung lebih rentan terhadap nitrit. Penurunan salinitas dari 35 ppt ke 15 ppt dapat meningkatkan sensitivitas udang terhadap nitrit secara signifikan. 

Hubungan ini berkaitan dengan persaingan ion nitrit dan klorida dalam proses masuknya ion melalui insang. Ketika kadar klorida di air lebih rendah, pengaruh nitrit dapat lebih besar. Berdasarkan penelitian Tropical Agricultural Sciences, toksisitas nitrit dapat meningkat dalam kondisi salinitas rendah. 

Oleh karena itu, saat kadar nitrit naik, tidak cukup untuk melihat angka nitrit saja, namun salinitas juga perlu diperiksa. Jangan menurunkan salinitas secara tiba-tiba hanya untuk menyesuaikan parameter lain karena perubahan salinitas yang cepat juga dapat menambah stres pada udang. 

Bagaimana Cara Mencegah Kadar Nitrit Naik Kembali?

Setelah nitrit berhasil diturunkan, tahap berikutnya adalah mencegahnya untuk kembali meningkat. Pencegahan sebaiknya dilakukan sebagai rutinitas, bukan hanya ketika kualitas air sudah bermasalah. Langkah yang dapat diterapkan antara lain:

  • Memeriksa nitrit dan amonia secara berkala

  • Memantau DO, pH, suhu, salinitas, dan alkalinitas

  • Menyesuaikan jumlah pakan dengan biomassa dan respon makan udang. Anda dapat membaca lebih lanjut Rumus Menghitung FCR Udang

  • Mengurangi sisa pakan dan bahan organik yang mengendap

  • Melakukan penyiponan sesuai kondisi dasar tambak

  • Menjaga aerasi tetap optimal, terutama pada malam hingga dini hari

  • Menggunakan probiotik sesuai kebutuhan dan petunjuk penggunaan

  • Menghindari perubahan salinitas secara mendadak

  • Mengevaluasi kepadatan tebar sesuai kemampuan sistem tambak

  • Mencatat hasil pengukuran agar tren perubahan kualitas air mudah diketahui

Pemantauan secara berkala menjadi penting karena kadar nitrit dapat berubah seiring bertambahnya biomassa dan beban organik selama masa pemeliharaan. 

Jadi, cara menurunkan nitrit di tambak udang tidak cukup dilakukan dengan satu tindakan. Anda perlu mencari sumber masalah kemudian mengombinasikan pengelolaan dasar kolam, penyiponan, aerasi, pergantian air yang terukur, penggunaan probiotik, serta pengaturan pakan dan kepadatan tebar. 

Yang tidak kalah penting, salinitas perlu ikut dipantau karena kondisi salinitas rendah dapat meningkatkan toksisitas nitrit pada udang. 

Referensi:

Effective Ways to Reduce Nitrite Levels in Shrimp Ponds
Effective Ways to Reduce Nitrite Levels in Shrimp Ponds
Agroveta Logo
Address: Kalbe Business Innovation Center, 4th Floor, Jl. Pulogadung No. 23 Kav. II G5, Pulogadung Industrial Estate, East Jakarta 13930
Phone: (021) 5086 7668

© Copyright PT Agroveta Husada Dharma 2026. All Right Reserved.

Agroveta Preloader
Agroveta