BlogsJul 30, 2026

CRD in Poultry: Symptoms, Causes and Effective Treatment

CRD in Poultry: Symptoms, Causes and Effective Treatment

CRD (Chronic Respiratory Disease) merupakan salah satu penyakit pernapasan yang paling sering ditemukan pada ayam pedaging maupun petelur. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan akibat bakteri Mycoplasma gallisepticum yang nantinya bisa menurunkan performa pertumbuhan, konversi pakan, hingga produksi telur. 

Jika tidak ditangani dengan baik, CRD dapat berkembang semakin parah menjadi infeksi sekunder akibat bakteri Escherichia coli atau bersamaan dengan penyakit virus Newcastle Disease (ND).

Apa Itu Chronic Respiratory Disease (CRD) pada Ayam?

Chronic Respiratory Disease (CRD) adalah penyakit infeksi kronis pada sistem pernapasan ayam yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG). Bakteri ini unik karena tidak memiliki dinding sel, sehingga tidak responsif terhadap antibiotik golongan beta-laktam seperti penisilin. Penyakit ini dapat menyebar secara horizontal melalui kontak langsung antar ayam maupun melalui udara, serta secara vertikal dari induk ke anak melalui telur. 

CRD sering disebut sebagai penyakit “ngorok” pada ayam karena gejala khasnya berupa suara napas berbunyi atau mendengkur. Pada kondisi tanpa komplikasi, angka kematian relatif rendah. Namun, ketika terjadi infeksi campuran, kerugian ekonomi dapat meningkat secara signifikan. 

Penyebab CRD

Penyebab utama CRD adalah infeksi bakteri Mycoplasma gallisepticum. Setelah masuk ke tubuh ayam, bakteri akan menempel pada mukosa saluran pernapasan seperti rongga hidung, sinus, trakea, dan kantung udara. Bakteri kemudian berkembang biak dan menyebabkan peradangan kronis. 

Beberapa faktor dapat memicu munculnya wabah CRD antara lain kepadatan kandang yang tinggi, ventilasi buruk, kadar amonia berlebihan, perubahan cuaca ekstrem, stres transportasi, kualitas pakan yang rendah, serta biosekuriti yang kurang baik. Faktor-faktor tersebut menurunkan daya tahan tubuh ayam sehingga infeksi lebih mudah berkembang. 

Gejala CRD pada Ayam yang Harus Segera Diwaspadai

Gejala CRD dapat berkembang secara bertahap mulai dari ringan hingga berat. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan. 

Gejala Klinis Awal

Pada tahap awal, CRD pada ayam sering kali menunjukkan tanda-tanda yang terlihat ringan sehingga kerap luput dari perhatian peternak. Padahal, mengenali gejala sejak dini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit ke seluruh populasi kandang dan mengurangi risiko penurunan performa produksi. 

  • Ngorok: Suara napas berbunyi “ngorok” atau mendekur merupakan tanda paling umum pada ayam yang terinfeksi CRD. Suara ini muncul akibat adanya lendir dan peradangan pada saluran pernapasan.

  • Batuk: Ayam dapat menunjukkan gejala batuk atau bersin berulang sebagai respons terhadap iritasi pada saluran pernapasan. Pada beberapa kasus, gejala ini lebih jelas terlihat saat pagi atau malam hari. 

  • Leleran Hidung: Lendir bening hingga kental dapat keluar dari lubang hidung. Jika terjadi infeksi sekunder, lendir biasanya berubah menjadi lebih keruh atau bernanah. 

Gejala Lanjut

Jika tidak segera ditangani, infeksi CRD dapat berkembang menjadi lebih serius dan menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih berat. Pada fase ini, gejala biasanya lebih mudah dikenali karena mulai memengaruhi kondisi fisik ayam serta produktivitasnya secara signifikan. 

  • Pembengkakan Muka: Infeksi yang semakin berat dapat menyebabkan pembengkakan sinus di sekitar mata dan wajah. Mata juga dapat terlihat berair atau berbusa. Kondisi ini sering ditemukan pada kasus CRD yang sudah berlangsung lama atau mengalami komplikasi. 

  • Penurunan Produksi: Pada ayam petelur, CRD dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Sementara pada ayam pedaging, pertumbuhan menjadi lambat dan efisiensi pakan menurun, sehingga biaya produksi meningkat. 

Perbedaan CRD Murni dan CRD Kompleks (CCRD + Koinfeksi E.coli/ND)

CRD murni terjadi ketika ayam hanya terinfeksi Mycoplasma gallisepticum (MG). Gejalanya biasanya terbatas pada gangguan pernapasan ringan hingga sedang dengan tingkat kematian yang rendah. 

Sementara itu, CRD kompleks (CCRD) terjadi ketika infeksi MG disertai infeksi bakteri E. coli atau virus lain seperti Newcastle Disease (ND). Pada kondisi ini, ayam dapat mengalami peradangan kantung udara yang parah, penurunan performa drastis, hingga peningkatan angka kematian. 

Koinfeksi CRD dan ND yang Sering Membingungkan Peternak

Banyak peternak sulit membedakan antara CRD dan Newcastle Disease karena keduanya sama-sama menimbulkan gejala gangguan pernapasan. Namun pada ND biasanya ditemukan gejala saraf seperti leher terpuntir, kelumpuhan, atau gangguan keseimbangan. 

Pada kasus koinfeksi CRD + ND, gejala respirasi menjadi jauh lebih berat dan angka kematian meningkat tajam. Oleh karena itu, diagnosis laboratorium sangat dianjurkan apabila terjadi kematian mendadak dalam jumlah besar. 

Cara Mengobati Ayam yang Terserang CRD

Penanganan CRD bertujuan mengurangi gejala klinis, mempercepat pemulihan, dan menekan penyebaran penyakit di dalam kandang. 

1. Menggunakan Antibiotik + Mukolitik

Penggunaan antibiotik yang sesuai dan dikombinasikan dengan mukolitik dapat membantu mengencerkan lendir yang menyumbat saluran pernapasan sehingga antibiotik dapat bekerja lebih optimal.

Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah Kalbrom yang mengandung bromhexine serta ekstrak mint untuk membantu melegakan saluran pernapasan ayam. Bromhexine bekerja sebagai mukolitik dan ekspektoran dengan memutus ikatan benang mukoprotein dan mukopolisakarida pada lendir, sehingga dahak jadi lebih encer dan mudah dikeluarkan. 

Selain itu, bromhexine juga diketahui dapat meningkatkan ciliary beat frequency (CBF) hingga sekitar 11%, sehingga membantu mempercepat pembersihan lendir dari saluran pernapasan. 

Kombinasi bromhexine dengan antibiotik dilaporkan dapat meningkatkan efektivitas terapi hingga sekitar lima kali lipat dalam membantu penghantaran antibiotik ke jaringan saluran pernapasan yang mengalami infeksi. 

Pilihan Antibiotik: Makrolida, Tetrasiklin, dan Quinolone

Berikut perbedaan antara pilihan antibiotik yang bisa digunakan untuk penanganan CRD:

Golongan

Contoh Antibiotik

Mekanisme Kerja

Kondisi Penggunaan

Makrolida

Eritromisin (Vetacin)

Menghambat sintesis protein bakteri

Pilihan utama pada CRD awal dan sedang

Kombonasi tetrasiklin & Makrolida

Eritromisin + Doxycycline (Eridokal, Eridokal HC)

Menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengganggu sintesis protein

Cocok untuk kasus lapangan dengan infeksi campuran ringan

Quinolone

Enrofloxacin (Vetaquin OS)

Menghambat replikasi DNA bakteri

Digunakan pada kasus berat atau saat terapi awal kurang efektif. 

Dosis, Durasi, dan Cara Pemberian Antibiotik

Dosis antibiotik dapat berbeda tergantung jenis produk, umur ayam, dan rekomendasi dokter hewan. Secara umum, antibiotik diberikan melalui air minum selama 3-7 hari. Pastikan seluruh ayam mendapatkan akses minum yang cukup agar dosis yang diterima merata. 

Apabila dalam 3-5 hari pengobatan tidak terlihat perbaikan seperti berkurangnya suara ngorok, menurunnya jumlah ayam sakit, atau meningkatnya konsumsi pakan, maka perlu dilakukan evaluasi. 

Penyebabnya bisa berupa resistensi antibiotik, kesalahan diagnosis, atau adanya koinfeksi lain. Dalam kondisi ini, konsultasikan dengan dokter hewan untuk menentukan pergantian antibiotik atau pemeriksaan laboratorium lanjutan.

2. Vitamin dan Imunostimulator Pendukung Pemulihan

Selain antibiotik, pemberian vitamin A, C, E, elektrolit, dan imunostimulator dapat membantu mempercepat pemulihan ayam. Untuk membantu meningkatkan imunitas ayam, pemberian Kalimun dapat digunakan sebagai imunostimulan yang membantu merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga ayam memiliki daya tahan tubuh lebih baik untuk menghadapi infeksi. 

Pemberian Kalvimix HC juga dapat diberikan untuk membantu meningkatkan ketahanan tubuh ayam melalui dukungan nutrisi mikro yang dibutuhkan dalam menjaga fungsi metabolisme dan sistem imun. 

Pada kondisi ayam stres akibat gangguan keseimbangan cairan atau kekurangan elektrolit, pemberian New Hydravit dapat membantu menggantikan elektrolit yang hilang dan mendukung proses pemulihan kondisi tubuh ayam.

Cara Mencegah CRD Menyebar di Kandang

Pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan, terutama karena CRD dapat bertahan lama dalam populasi ayam dan ayam yang pernah terinfeksi bisa menjadi pembawa (carrier). 

1. Menjaga Kepadatan Kandang 

Selain menjaga biosekuriti dan kebersihan kandang, kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan. Kandang yang terlalu padat dengan kadar amonia tinggi dapat menyebabkan stres pada ayam, memicu pertumbuhan bakteri patogen, dan meningkatkan penumpukan lendir di saluran pernapasan. 

Untuk membantu menjaga saluran pernapasan agar tetap lega, Kalbrom dapat digunakan sebagai terapi pendukung secara rutin, terutama pada kondisi kandang dengan risiko cekaman amonia tinggi. Kandungan bromhexine di dalamnya bekerja sebagai mukolitik dan ekspektoran yang membantu mengencerkan lendir sehingga lebih mudah dikeluarkan dan ayam bisa bernapas lebih lega.

2. Manajemen Biosekuriti dan Kebersihan Kandang

Biosekuriti merupakan langkah penting untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit di dalam kandang. Penerapannya meliputi pembatasan lalu lintas orang dan kendaraan, pembersihan peralatan, karantina ayam baru, serta pengendalian hewan pembawa penyakit seperti burung liar. Selain itu, kualitas lingkungan kandang perlu dijaga dengan ventilasi yang baik agar kadar amonia tetap rendah. 

Untuk mendukung kebersihan kandang secara rutin, penggunaan Hig Plus atau Hi-G dapat membantu menjaga kondisi kandang tetap higienis dan mengurangi risiko berkembangnya mikroorganisme penyebab penyakit. 

Sementara itu, Hig Pro dapat digunakan untuk membantu menjaga kualitas air minum lewat proses desinfeksi, sehingga ayam mendapatkan sumber air yang lebih bersih dan aman.

3. Vaksinasi dan Program Pencegahan Rutin

Program vaksinasi terhadap Mycoplasma gallisepticum dapat membantu mengurangi gejala klinis dan kerugian akibat CRD. Namun, vaksinasi perlu didukung dengan penerapan biosekuriti rutin, seperti sanitasi kandang ayam & peralatan, serta pengendalian lalu lintas di area peternakan agar perlindungan ayam lebih optimal. 

Selain itu, pemberian Kalimun dapat membantu meningkatkan imunitas ayam sebagai imunostimulan, sedangkan Kalvimix HC dapat diberikan untuk membantu menjaga ketahanan tubuh ayam dalam menghadapi berbagai tantangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh. 

Kombinasi vaksinasi, biosekuriti, dan dukungan nutrisi imun dapat membantu menjaga kesehatan ayam serta mempertahankan produktivitas kandang. 

Berapa Lama Ayam Sembuh dari CRD dan Kapan Produksi Normal Kembali?

Pada kasus ringan yang ditangani dengan cepat, perbaikan gejala biasanya mulai terlihat dalam 3-7 hari setelah percobaan. Namun, pemulihan performa produksi membutuhkan waktu lebih lama, sekitar 2-4 minggu tergantung tingkat keparahan penyakit, manajemen kandang, dan adanya infeksi sekunder. 

Pada kasus CCRD atau koinfeksi dengan ND dan E. coli, waktu pemulihan dapat lebih panjang dan tidak semua ayam mampu kembali mencapai performa produksi sebelum sakit. Oleh karena itu, pencegahan tetap menjadi strategi paling menguntungkan bagi peternak. 

Dengan pengobatan yang tepat dan pemantauan kesehatan rutin jadi salah satu langkah efektif untuk mengurangi risiko terjadinya wabah CRD di peternakan. Selain memahami cara mengendalikan CRD, peternak juga perlu tahu program vaksinasi yang tepat untuk mencegah berbagai penyakit menular. Baca selengkapnya artikel urutan vaksin ayam petelur untuk menyusun program kesehatan ternak yang lebih efektif. 

Referensi:

  • MSD Manual. Mycoplasma gallisepticum Infection in Poultry. Diakses dari https://www.msdvetmanual.com/poultry/mycoplasmosis/mycoplasma-gallisepticum-infection-in-poultry

  • Nature. Mycoplasma gallisepticum pathogenesis in poultry systems. Diakses dari https://www.nature.com/nature-index/topics/l4/mycoplasma-gallisepticum-pathogenesis-in-poultry-systems

  • Merck Manual. Overview of Mycoplasma gallisepticum. Diakses dari https://www.merckvetmanual.com/poultry/mycoplasmosis/overview-of-mycoplasmosis-in-poultry

CRD in Poultry: Symptoms, Causes and Effective Treatment
CRD in Poultry: Symptoms, Causes and Effective Treatment
Agroveta Logo
Address: Kalbe Business Innovation Center, 4th Floor, Jl. Pulogadung No. 23 Kav. II G5, Pulogadung Industrial Estate, East Jakarta 13930
Phone: (021) 5086 7668

© Copyright PT Agroveta Husada Dharma 2026. All Right Reserved.

Agroveta Preloader
Agroveta